Terwujudnya Sebuah Karakter
Dijaman dahulu anak sekolah berjalan berkilo-kilo meter untuk menuju tempat belajar ada yang semangat dan senang untuk menuntut ilmu dan terkadang mereka juga berputus asa karena jarak yang di tempuh terlalu jauh sesampainya di tempat bapak maupun ibu guru tidak ada di tempat karena sesuatu hal dan masih terjadi di beberapa tempat yang ada itu merupakan faktor pembentukan karakter anak yang kurang berperan baik dalam pembentukan karakter yang positif.
Dijaman sekarang anak sekolah begitu mudah dalam mengakses dunia maya dalam era di gital dimana dengan mudah mengakses hal-hal yang kurang begitu baik dalam membuka situs-situs yang membahayakan contohnya adalah membuka situs pornografi karena keinginan mengetahui dan melakukan anak lebih besar sehingga anak menirukan melakukan apa yang dilihat dengan cara berhubungan yang mengakibatkan kehamilan di luar nikah itulah yang mengakibatkan terbenturnya masa depan mereka untuk lebih baik yang lebih parah yaitu kasus aborsi atau menggugurkan anak dalam kandungan akibat hubungan di luar nikah itu merupakan faktor pembentukan karakter yang tidak berperan baik dalam pembentukan karakter yang positif.
Dijaman sekarang anak membuat perkumpulan atau geng tidak heran dimana anak merasa hebat dan kuat apabila sudah memiliki perkumpulan terkadang mereka mencoba-coba minuman alkohol bahkan narkoba sampai-sampai merugikan orang lain dengan membully bahkan kekerasaan fisik maupun seksual sehingga anak yang terkena bully bahkan kekerasaan fisik maupun seksual, anak menjadi trauma, minder, takut untuk menuntut ilmu itu merupakan faktor pembentukan karakter yang tidak berperan baik dalam pembentukan karakter yang positif.
Mereka ini adalah anak-anak yang menghadapi kemajuan global di era modern sekarang ini karena kecanduan smartphone yang mudah mengakses tanpa di saring informasi dan tanpa di dampingi orang tua karena kurangnya waktu keluarga dengan anak, tekanan dari teman dan perkumpulan dalam sebuah geng, beban keharusan dalam menuntut pengetahuan di luar kemampuan anak itu merupakan faktor pembentukan karakter yang tidak berperan baik dalam pembentukan karakter yang positif.
Sehingga terbentuklah karakter yang tidak berperan baik di antaranya karakter menghancurkan pada dirinya sendiri bahkan orang lain, Bosan dengan rutinitas sehari-hari, kesepian karena kurangnya perhatian akan waktu dan berbincang-bincang dari orang tua maupun guru, marah yang meluap karena suatu hal yang terpendam dan tidak sesuai harapan si anak tersebut, takut bercerita karena tekanan-tekanan dari orang lain, stress karena tekanan dan tuntutan dari pihak-pihak lain yang harus di selesaikan atau suatu kondisi, lelah karena semua beban dia tanggung sendiri dari semua permasalahan.
Mari orang tua, guru, masyarakat dan peran semua pemerintah pemangku kebijakan (Stekholder) untuk menggandeng, membawa mereka dalam satu aksi dalam pola asuh semenjak kecil dengan baik sehingga menjadi anak terbaik, berpirilaku baik, memiliki empati terhadap orang lain, cerdas dalam mengomtimalkan kemampuan, tanggguh dalam berprinsip yang benar. Maka mari kita berkolaborasi untuk anak menuju pembentukan karakter yang berperan positif terutama meliputi religius, jujur, toleran, disiplin bekerja keras, kreatif, mandiri, demokraktis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan bertanggung jawab.
Dengan kolaborasi orang tua, guru, masyarakat dan peran semua pemerintah pemangku kebijakan ( Stekholder ) semua karakter yang berperan negatif akan dapat di kurangi bahkan bisa di minimalisir untuk menjadi sekecil mungkin dan peran pembentukan karakter positif di tumbuhkan dengan pengelolahaan karakter serta pengembangan nilai-nilai karakter meliputi olah hati yang memiliki kerohanian mendalam beriman dan bertakwa, olah pikir yang memiliki keunggulan akademis sebagai hal pembelajaran dan pembelajaran sepanjang hayat, olah rasa yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan, olah raga yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga Negara Indonesia.
Sehingga anak-anak sekarang dan pemuda sekarang menjadi generasi emas di tahun 2045 melalui pembentukan karakter-karakter yang positif yang di mulai dari sekarang dengan nilai utama yaitu menerapakan sikap religius, sikap nasionalis, sikap mandiri, sikap gotong-royong dan integritas maka Indonesia Emas 2045 akan terwujud di semua bidang.
Komentar
Posting Komentar